<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>pena...</title>
	<atom:link href="http://abufaim.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abufaim.wordpress.com</link>
	<description>Just two cent from me</description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 May 2007 06:23:28 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='abufaim.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/515a7c7760df7776b4ec5d92207785e4?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>pena...</title>
		<link>http://abufaim.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Pernak-pernik di Musholla</title>
		<link>http://abufaim.wordpress.com/2007/05/10/pernak-pernik-di-musholla/</link>
		<comments>http://abufaim.wordpress.com/2007/05/10/pernak-pernik-di-musholla/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2007 06:23:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufaim</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://abufaim.wordpress.com/2007/05/10/pernak-pernik-di-musholla/</guid>
		<description><![CDATA[Orang-orang itu memang baru bertobat dan sedang tekun belajar sholat. Mereka mulai mengerti bagaimana seharusnya mengerjakan sholat yang benar. Salah satu di antaranya baru hari itu ikut berjamaah dengan gurunya. Namanya Paul.
Ketika imam garuk-garuk kepada sesudah bangun I’tidal dari rukuk pada rakaat kedua karena digigit nyamuk, Paul pun ikut garuk-garuk kepala. Disangkanya mengikuti gerakan imam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaim.wordpress.com&blog=737892&post=16&subd=abufaim&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal">Orang-orang itu memang baru bertobat dan sedang tekun belajar sholat. Mereka mulai mengerti bagaimana seharusnya mengerjakan sholat yang benar. Salah satu di antaranya baru hari itu ikut berjamaah dengan gurunya. Namanya Paul.</p>
<p class="MsoNormal">Ketika imam garuk-garuk kepada sesudah bangun I’tidal dari rukuk pada rakaat kedua karena digigit nyamuk, Paul pun ikut garuk-garuk kepala. Disangkanya mengikuti gerakan imam termasuk juga kalau imam garuk-garuk kepada ia harus turut melakukan yang sama.</p>
<p class="MsoNormal">Tentu saja perbuatan ini keliru. Maka makmum di sebelahnya mengingatkan,”Hai Paul. Tidak usah ikut garuk-garuk kepala.”</p>
<p class="MsoNormal">Makmum lainnya lalu menegur,”Kamu sembahyang kok ngomong. Batal.”</p>
<p class="MsoNormal">Makmum ketiga juga menyalahkan,”Kamu pun sudah batal.”</p>
<p class="MsoNormal">Karena yang selebihnya juga saling mengingatkan, akhirnya semua makmum menjadi batal sholatnya gara-gara ulah Paul. Setelah selesai sholat, tentunya hanya guru mereka saja yang tidak batal, guru tersebut memberitahukan agar sikap seperti itu jangan diulangi lagi. Sholat harus dilaksanakan secara khusyuk. Sepatah kata pun yang tidak ada hubungannya dengan bacaan sholat tidak boleh dikeluarkan.</p>
<p class="MsoNormal">Hari berikutnya, salah seorang di antara mereka terlambat dating. Sholat Isya’ sudah selesai. Maka ia pun berniat sholat sendirian, Ketika ia sudah berdiri, tiba-tiba masuk dua orang ke musholla dan bermaksud hendak makmum di belakangnya.</p>
<p class="MsoNormal">Orang itu yang bernama Dolah keberatan.</p>
<p class="MsoNormal">“Maaf. Saya tidak biasa jadi imam.”</p>
<p class="MsoNormal">“Ah, tidak apa-apa,” jawab kedua orang calon makmum itu.”</p>
<p class="MsoNormal">“Saudara saja yang di depan. Saya makmum,” sergah Dolah gemetar.</p>
<p class="MsoNormal">“Maaf. Kami ini musafir, kurang afdol kalau jadi imam. Saudara kan pemukim di sini. Saudaralah yang harus jadi imam.”</p>
<p class="MsoNormal">Sesudah berdebat tak habis-habis, akhirnya Dolah mengalah untuk jadi imam sekali itu. Tapi sebelum takbiratul ihram ia berkata:</p>
<p class="MsoNormal">“Baiklah. Saya jadi imam, namun dengan syarat, makmumnya hanya saudara berdua saja. Tidak boleh lebih.”</p>
<p class="MsoNormal">Kedua pendatang itu saling berpandangan lalu menjawab,”Ya, boleh. Nyatanya kan disini hanya kami berdua saja.”</p>
<p class="MsoNormal">Maka Dolah pun mulai membaca al-Fatihah. Bacaannya sudah lumayan. Karena ia rajin belajar. Sebelum selesai al-Fatihahnya, datang lagi tiga orang makmum berikutnya. Mereka bergabung bersama kedua makmum yang terdahulu. Hingga pada waktu membaca Amin setelah Dolah melafalkan,”waladlalin” kedengaran betul jumlah makmum yang lebih dari dua orang.</p>
<p class="MsoNormal">Serta merta Dolah menoleh dan mengurungkan sholatnya, “Saya kan tadi sudah memberi syarat, makmumnya hanya dua orang saja. Kenapa sekarang ada lima? Saya tidak mau jadi imam lagi.”</p>
<p class="MsoNormal">Tinggalah kelima orang itu bengong, bingung apa yang harus dikerjakan. Mau dibatalkan hukumnya tidak boleh, mau diteruskan imamnya mogok.</p>
<p class="MsoNormal">Dolah, sosok yang ikhlas dan polos. Kalau pun salah, bukan karena sok tahunya, melainkan lantaran memang belum tahu hukumnya. Berbeda dengan haji Dulgapur. Yang dikampungnya memperoleh julukan haji “hambali” sebab di tanah suci Makkah kerjanya hanya keliling pasar-pasar memborong hambal untuk oleh-oleh.</p>
<p class="MsoNormal">Pada suatu saat pak lebai yang biasa men-sholati jenazah sedang sakit. Di masjid tidak ada orang yang lebih pandai. Untuk itu haji Dulgapur tanpa diminta maju ke depan hendak mengimami sholat jenazah.</p>
<p class="MsoNormal">Orang-orang pun mengira haji Dulgapur, karena sudah bertitel haji, pasti sudah tahu bagaimana caranya sholat jenazah. Seperti diketahui, sholat jenazah berbeda dengan sholat biasa. Tidak ada rukuk dan sujud. Yang dikerjakan hanya takbir empat kali sambil tetap berdiri lalu salam.</p>
<p class="MsoNormal">Anehnya, haji Dulgapur melaksanakan sholat jenazah lengkap dengan rukuk dan sujud serta tasyahud awal dan tasyahud akhir, sama seperti sholat Dzuhur.</p>
<p class="MsoNormal">Salah seorang makmum memberanikan diri untuk menegur, “Pak Haji.Kok sholat jenazah pakai rukuk dan sujud segala?”</p>
<p class="MsoNormal">Pak Haji terkejut lantas balik bertanya, “Apa biasanya tidak begitu?”</p>
<p class="MsoNormal">“Tidak,” jawab para makmum serempak.</p>
<p class="MsoNormal">“Hanya takbir empat kali sambil tetap berdiri lalu diakhiri dengan salam ke kanan dan ke kiri.”</p>
<p class="MsoNormal">Dasar orang licik. Dengan angkuh Haji Dulgapur menjelaskan, “Oh begini masalahnya. Biasanya mayat-mayat itu dosanya kecil saja. Sedangkan yang kita sholati sekarang ini<span>  </span>dosanya sangat besar, jadi harus pakai rukuk dan sujud.”</p>
<p class="MsoNormal">Orang-orang pun mengangguk-angguk lantaran kebetulan mereka sama bodohnya dengan Pak Haji.(abufaim).</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abufaim.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abufaim.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufaim.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufaim.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufaim.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufaim.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufaim.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufaim.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufaim.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufaim.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufaim.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufaim.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaim.wordpress.com&blog=737892&post=16&subd=abufaim&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufaim.wordpress.com/2007/05/10/pernak-pernik-di-musholla/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3206bc2b3cdadc03f728a38a0ca756f1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abufaim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Shalat, Dzikir Paling Utama</title>
		<link>http://abufaim.wordpress.com/2007/04/12/shalat-dzikir-paling-utama/</link>
		<comments>http://abufaim.wordpress.com/2007/04/12/shalat-dzikir-paling-utama/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Apr 2007 11:01:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufaim</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://abufaim.wordpress.com/2007/04/12/shalat-dzikir-paling-utama/</guid>
		<description><![CDATA[Kualitas iman bias diukur dari shalatnya
 
Sulit dimengerti, kenapa banyak orang melaksanakan shalat dengan begitu tergesa-gesa. Kecepatannya super, sementara itu telah dilakukannya sekian lama. Kenapa tidak ada usaha meningkatkan kualitas shalat iut dengan mencoba sedikit pelan sehingga dapat menghayati makna segala doa yang diucapkan?
Bagaimana mungkin bias mempertajam doa kalau tidak didukung oleh semua instrument dalam diri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaim.wordpress.com&blog=737892&post=14&subd=abufaim&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><em>Kualitas iman bias diukur dari shalatnya</em></p>
<p class="MsoNormal"> <br />
Sulit dimengerti, kenapa banyak orang melaksanakan shalat dengan begitu tergesa-gesa. Kecepatannya super, sementara itu telah dilakukannya sekian lama. Kenapa tidak ada usaha meningkatkan kualitas shalat iut dengan mencoba sedikit pelan sehingga dapat menghayati makna segala doa yang diucapkan?</p>
<p class="MsoNormal">Bagaimana mungkin bias mempertajam doa kalau tidak didukung oleh semua instrument dalam diri baik pikiran, perasaan, hati serta jiwa? Bukankah pemahaman dan penghayatan terhadap isi doa itu merupakan permulaan dari munajat seseorang?</p>
<p class="MsoNormal">Lebih sulit lagi bila shalatnya memang terlalu cepat. Pengalaman berkata, sedang ditahan agar lebih pelan sedikit dari yang lazim saja masih cukup direpotkan oleh gangguan dan rayuan setan; sekali-sekali pikiran masih lepas dan sempat ke mana-mana. Kadang bahkanbisa terkaget-kaget setelah sekian lama pikiran dibawa ke jalur lain, dan baru kita sadar belakangan. Tetapi itu masih lumayan bila shalat dilaksanakan dengan penuh ketenangan. Masih ada waktu untuk memperbaiki. Tetapi bagaimana bila –saking cepatnya- kita baru sadar di saat shalat hampir usai?</p>
<p class="MsoNormal">Apakah tidak timbul penyesalan dan perasaan rugi, sayang karena kesempatan terlepas begitu saja? Kira-kira apa yang kita dapatkan dari shalat dengan pikiran melayang-layang, bahkan asyik menikmati materi yang disodorkan setan, dan belum sempat kembali hingga salam? Doa mana yang telah kita minta dengan sungguh-sungguh? Dan ijabah mana yang kira-kira akan diberikan Allah?</p>
<p class="MsoNormal">Tidak dapat disangkal, upaya mengkoordinasikan seluruh instrument (pikiran, perasaan dan ucapan) untuk berada pada satu jalur konsentrasi bukanlah pekerjaan gampang. Tidak bias dilakukan sekejap, dan tidak bisa asal-asalan. Perlu penyetelan ulang, perlu control kalau-kalau ada penyimpangan, perlu penghayatan dan penyerapan, dan seterusnya. Tentu saja pikiran yang tergesa-gesa tidak akan bisa melakukannya.</p>
<p class="MsoNormal">Banyak orang mengakui, bahwa dzikir mereka terutama shalat, sebagai wadah dzikir yang efektif nyaris tidak terasakan hasilnya. Buah dzikir itu saja tidak, apalagi seperti yang Allah janjikan. Kalau diusut lebih jauh, ini sebenarnya berkait erat dengan nilai syahadat seseorang. Sebab syahadat yang benar akan menghasilkan pengakuan akan seluruh nilai kesempurnaan Allah, menghasilkan cinta, harapan dan kerinduan, penghormatan, rasa takut, serta keyakinan perlindungan di tangan-Nya. Kalau isi dan makna syahadat sudah seperti itu, pasti ada dorongan keras untuk selalu melakukan kontak dengan-Nya, minimal mengingat dan menyebut asma-Nya, meminta perlindungan-Nya. SEhingga wajar bila acara dan perjumpaan formal dengan-Nya menjadi begitu mengasikkan, menyenangkan bahkan bisa memabukkan dalam arti positif. Begitu pula dalam menyebut nama-Nya, sangat pantas bila menimbulkan kenikmatan yang orang lain sulit mengertinya, kecuali bagi orang yang biasa mengalaminya.</p>
<p class="MsoNormal">Karena persoalaan kembali kepada nilai syahadat, bila ada yang merasakan shalatnya tidak nikmat, bahkan merasa sumpek, tidak senang, malas, pendeknya tidak simpati, ingin segera mengakhiri. Nilai syahadat terpaksa dipertanyakan sehubungan dengan penilaian dan pemahaman eksistensi Tuhan. Seperti apa anggapannya terhadap Tuhan, akan terbaca dalam pertemuan shalat itu. Kadar dan mutu imannya dapat diukur dari dzikirnya, terutamanya shalat.</p>
<p class="MsoNormal">Setiap orang dapat menarik kesimpulan untuk dirinya sendiri secara diam-diam dan rahasia. Kalau memang merasa shalat belum nikmat, belum menimbulkan keasikan, belum memberikan buah dalam kehidupan sehari-hari, cepat-cepatlah simpulkan bahwa iman dan mutu syahadat dalam kondisi kurang beres. Kondisi yang tidak menguntungkan, bahkan berbahaya.</p>
<p class="MsoNormal">Perlu ada usaha menambah tingkat pemahaman akan kesempurnaan dan peran Allah swt di dunia ini dan ketergantungan kita kepada-Nya, sambil terus menumbuhkan kesadaran akan kelemahan, keterbatasan, dan ketidakberdayaan kita dalam menghadapi sekian banyak persoalan. Itu akan mempertajam kesimpulan bahwa kita sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa tanpa izin dan restu-Nya. Kalau ini sudah mantap, mulailah sering menyebut-nyebut nama-Nya, menghayati betapa pemurahnya Allah swt.</p>
<p class="MsoNormal">Setelah itu, artinya sudah yakin dan paham betul kedudukan, fungsi, dan peran Allah dalam kehidupan ini, baru ideal untuk segera menunaikan shalat. Karena di samping shalat dalam hubungan ini sebagai wujud pengakuan kita kepada-Nya Yang Maha Kuasa, juga wujud rasa syukur akan karunia dan rezeki yang diberikan tanpa batas. Tetapi lebih dari itu, ada perasaan punya kebutuhan dan kepentingan untuk melaporkan kepada Allah, sekaligus ada dorongan cinta dan rindu berkomunikasi langsung dengan-Nya.</p>
<p class="MsoNormal">Dzikir dan shalat, di samping perwujudan dan pencerminan kualitas iman, juga berfungsi sebagai alat gosok dan alat asah yang paling efektif. Semua itu akan lebih jelas bila segera dicoba diupayakan pelaksanaannya. Yakini, ada sesuatu yang nikmat di balik dzikir utamanya shalat. Dan tentu bukan sekedar untuk dirasakan dan berakhir di situ saja, tetapi selanjutnya kenikmatan itu dapat di gunakan sebagai kekuatan untuk banyak kepentingan, tergantung tuntunan serta ketrampilan manajemen kita.</p>
<p class="MsoNormal">Karenanya penting, utamanya bagi remaja Islam yang dituntut berperan lebih banyak dewasa ini, agar mulai membenahi dzikir dan shalatnya, memanfaatkan potensi yang diperoleh dari sana. Itu akan sangat menolong keberhasilan menyedot kekuatan ilahi.</p>
<p class="MsoNormal">Nampaknya problema yang dihadapi di masa dating sangat memerlukan potensi hasil dzikir dan shalat, sebagai kekuatan dasar yang mendukung ketrampilan dan kemampuan di berbagai bidang. Sangat menkhawatirkan kalau sampai disepelekan hal ini, karena nasib yang melanda umat sekarang hingga sulit dibawa<span>  </span>ke posisi yang lebih ideal, salah satunya berakar pada kelalailan memanfaatkan potensi dzikir dan shalat. Ini nampak pada penampilan fungsionaris generasi kemarin, dan bahkan masih ada yang berlanjut hingga kini.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abufaim.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abufaim.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufaim.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufaim.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufaim.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufaim.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufaim.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufaim.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufaim.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufaim.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufaim.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufaim.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaim.wordpress.com&blog=737892&post=14&subd=abufaim&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufaim.wordpress.com/2007/04/12/shalat-dzikir-paling-utama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3206bc2b3cdadc03f728a38a0ca756f1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abufaim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fitrah Kewanitaan Hilang di Bangku Kuliah?</title>
		<link>http://abufaim.wordpress.com/2007/04/05/fitrah-kewanitaan-hilang-di-bangku-kuliah/</link>
		<comments>http://abufaim.wordpress.com/2007/04/05/fitrah-kewanitaan-hilang-di-bangku-kuliah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Apr 2007 10:58:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufaim</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://abufaim.wordpress.com/2007/04/05/fitrah-kewanitaan-hilang-di-bangku-kuliah/</guid>
		<description><![CDATA[Problem serius para mahasiswi yang merasa keliru memilih jurusan
 
Nurul memang tak lebih seorang mahasiswi. Kuliah tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi negeri, gadis manis berjilbab ini sedang bingung. Apa pasal? Seorang pria telah dating melamar, mengajaknya hidup berumah tangga seperti akhir-akhir ini diidamkannya!
 
Lantas apa yang membuatnya bingung? Tak lain adalah syarat yang diajukan sang jejaka, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaim.wordpress.com&blog=737892&post=13&subd=abufaim&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><em>Problem serius para mahasiswi yang merasa keliru memilih jurusan</em></p>
<p class="MsoNormal"> <br />
Nurul memang tak lebih seorang mahasiswi. Kuliah tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi negeri, gadis manis berjilbab ini sedang bingung. Apa pasal? Seorang pria telah dating melamar, mengajaknya hidup berumah tangga seperti akhir-akhir ini diidamkannya!</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Lantas apa yang membuatnya bingung? Tak lain adalah syarat yang diajukan sang jejaka, bahwa kelak Nurul harus 100% menjadi ibu rumah tangga. Tak usah payah ikut bekerja mencari nafkah. Yang lebih utama adalah mengurus rumah, melayani suami, dan yang terpenting mendidik anak-anaknya.</p>
<p class="MsoNormal">Nurul bergidik membayangkan semua itu. Bukannya karena tidak setuju, tetapi lantaran ia tidak yakin, bisakah ia memenuhi harapan suaminya kelak. Nurul memang bukan tipe wanita karir, bukan pula tipe wanita materialis. Dia sadar sepenuhnya, bahwa tugas utama wanita memang mengurus keluarga dan membina keturunan. Bahkan sebagai aktivis masjid kampus, ia sempat menyuntikkan pendapat ini kepada adik-adik kelas lewat keahliannya berbicara di podium.</p>
<p class="MsoNormal">Kalau Nurul memilih jurusan Teknik Fisika, ia sadar bahwa ia telah salah pilih. Tetapi karena sudah terlanjur, jurusan yang tergolong ‘keras’ inipun ditempuhnya hingga kini.</p>
<p class="MsoNormal">Setumpuk keraguan masih membalut erat hati Nurul. Bisakah ia menjadi ibu rumah tangga yang baik kelak? Selama ini ia belum pAnnah merasa mencintai pekerjaan masak-memasak. Bertahun-tahun hidup di kost, Nurul selalu menggantungkan pilihan menu sehari-hari pada makanan rantangan yang di pasangnya 2 kali sehari.</p>
<p class="MsoNormal">Bahkan jika saatnya ia pulang kampong, pekerjaan yang membuatnya jengkel adalah membantu ibu memasak di rumah. Beramis-amis menyisik ikan sering membuatnya merasa mual. Menggoreng ikan bandeng yang selalu memercik-mercikkan minyakpun membuatnya sebal. Sekedar menghaluskan bumbu dan memarut kelapa saja sudah membuatnya mengomel tak sabar.</p>
<p class="MsoNormal">Yang namanya sayur lodeh ia tak tahu bumbunya. Sementara lidahnya terasa tak lagi peka merasakan asin tidaknya masakan. Lantas bagaimana? Nurul amat takut betapa tersiksanya kelak tatkala ia harus berjam-jam berada di dapur yang amat menyebalkan.</p>
<p class="MsoNormal">Sama seperti Nurul, Anna pun kini tengah dilanda dilemma. Dua bulan lalu gelar Sarjana Sipil telah disandangnya. Tapi sampai kini ia menganggur di rumah ibunya di desa. Anna merasa tersiksa dengan keadaanya sekarang.</p>
<p class="MsoNormal">Bukan karena ia tak laku kerja. Prestasinya yang memuaskan di bangku kuliah membuat beberapa perusahaan berebut menawarkan jabatan kepadanya. Sementara Anna sadar bahwa sebaik-baiknya tempat kerja bagi wanita adalah di dalam rumah. Tetapi sampai kini belum dating juga pria yang mengajaknya berumah tangga.</p>
<p class="MsoNormal">Untuk sementara Anna menampik tawaran kerja itu dan memilih altAnnatif tinggal di rumah sambil mengajar anak-anak mengaji. Sebenarnya, banyak pekerjaan bias ia selesaikan di sana. Ibunya adalah pengusaha konveksi yang walau tak terlalu besar namun cukup luas pemasarannya. Andaikan Anna mau menekuni bisnis ini, bukannya tak mungkin akan semakin pesat perkembangannya.</p>
<p class="MsoNormal">Tetapi sayang, karena ternyata Anna bukanlah gadis yang menyukai keterampilan dalam bidang ini. Baginya, duduk berjam-jam di depan mesin jahit sangatlah menyebalkan dan membosankan. Ia tak memiliki cukup kesabaran dan ketelatenan untuk itu.</p>
<p class="MsoNormal">Maka, Anna memilih untuk tidak campur tangan dengan usaha ibunya. Terpaksa kini ia hanya menunggu, walau menganggur seperti ini pun amat dibencinya. Sampai kapan dilema seperti itu akan menjeratnya, Anna tak tahu.</p>
<p class="MsoNormal">Kedua gadis jilbab tersebut adalah sedikit dari banyak gadis yagn mengalami dilemma serupa. Sebagai mahasiswi yang aktif mengikuti aneka kegiatan ruhani, mereka paham bagaimana kedudukan dan kewajiban seorang muslimah di dalam Islam. Tetapi ketika dating kesempatan untuk memperoleh kedudukan itu, mereka menemukan kenyataan bahwa ternyata mereka sudah begitu jauh terlempar dari dunia wanita.</p>
<p class="MsoNormal">Pekerjaan-pekerjaan alamiah bagi wanita sebenarnya sesuai dengan naluri dan kodrat makhluk yang namanya wanita, ternyata amat menyebalkan mereka. Kesabaran dan ketelatenan yang jadi modal awal bagi seorang muslimah untuk bergelut dalam dunianya pun menjadi momok yang menakutkan. Apa sebenarnya yang terjadi?</p>
<p class="MsoNormal">Nurul dan Anna sama-sama menjadi korban sebuah sistem. Memang benar bahwa pemahaman keduanya tentang teori kebenaran kedudukan wanita menurut Islam terus berkembang. Tetapi sistem yang mengukung hari demi hari di kampus ternyata tidak membimbing mereka untuk siap melakukan teori kebenaran itu.</p>
<p class="MsoNormal">Baik jurusan Teknik Fisika yang dipilih Nurul maupun Teknik Sipil yang ditekuni Anna, sama-sama tergolong jurusan ‘keras’. Menuntut pengorbanan tenaga fisika yang sama sekali tidak ringan. Payahnya tak dibedakan antara mahasiswa dan mahasiswi. Bila para mahasiswa dituntut bisa mengelas, begitu pula bagi yang mahasiswi. Saat para mahasiswa sibuk menggergaji dan memukulkan martil di sana-sini, itu pulalah yang harus dikerjakan para mahasiswi.</p>
<p class="MsoNormal">Belasan bahkan puluhan jam dalam seminggu putra-putri manis itu harus terpanggang sinar matahari bersama rekan-rekan prianya demi melakukan percobaan demi percobaan. Lebih banyak lagi waktu harus mereka habiskan untuk bergelut dengan angka demi angka, untuk menyelesaikan perhitungan yang amat rumit.</p>
<p class="MsoNormal">Dunia angka kini telah menjadi dunia mereka. Otak mereka terasah dengan hebatnya hingga tanpa terasa menggeser dominasi perasaan yang menjadi naluri tiap wanita. Pikiran mereka selalu terfokus pada segala sesuatu yang harus sesuai dengan logika. Mereka telah akrab dengan terik yang menyengat maupun peluh yang mengucur dan sekian banyak pekerjaan berat lainnya. Semua telah jadi kebiasaan dan justru akan sangat menyiksa jika mereka tak memperoleh kesempatan mengerjakan itu semua.</p>
<p class="MsoNormal">Wajar bukan, jika Anna menjadi tak betah lagi duduk menunggu rempeyek yang harus digoreng kering di wajan satu demi satu?</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Jauh sebelum semua ini, adalah lebih baik untuk menghindari kemungkinan ini. Tak ada gunanya menyalahkan sistem, sementara kita membiarkan saja diri kita larut dan hancur di dalamnya. Andaikata kita belum mampu melepaskan diri secara total dari belitannya, tentu ada cara untuk sedikit mengurangi akibat buruknya.</p>
<p class="MsoNormal">Memilih dunia ilmu pengetahuan yang sesuai dengan dunia wanita, adalah altAnnatif terbaik. Kesempatan untuk ini terbuka amat luas, mudah dan murah. Sayang pandangan umum menganggap pilihan ini kurang bergengsi. Padahal inilah yang kelak mendukung suksesnya seorang wanita berkarya dalam rumah tangganya, maupun dalam urusan bisnis yang Islami.</p>
<p class="MsoNormal">Kalaupun gadis-gadis muslimah kita terlanjur terjun dalam dunia ilmu yang ‘kasar dan keras’, masih ada yang mungkin untuk dilakukan. Yang utama adalah menjaga keseimbangan, antara kekerasan dan kelembutan. Jangan biarkan kebiasaan-kebiasaan untuk bertingkah kasar dan keras sampai mendarah daging. Netralkan dengan meluangkan waktu untuk tetap mengenal dunia wanita seperti memasak maupun menjahit. Pekerjaan-pekerjaan seperti ini barangkali bisa membantu untuk mempertahankan adanya sifat sabar dan telaten.</p>
<p class="MsoNormal">Luangkan juga waktu untuk berkumpul dengan teman-teman wanita guna mendiskusikan berbagai hal tentang dunia wanita. Tentang kehidupan kelak dalam rumah tangga, tentang pengetahuan masak memasak, tentang suka duka mengasuh anak dan masih banyak lagi.</p>
<p class="MsoNormal">Cara ini setidaknya menghindarkan kemungkinan otak yang terus menerus terfokus pada masalah logika dan perhitungan angka. Sementara dalam dunia wanita yang sebenarnya, lebih dibutuhkan tebalnya perasaan yang tak jarang mengesampingkan pertimbangan akal dan logika.</p>
<p class="MsoNormal">Ada kalanya penyesalan datang terlambat. Seperti Anna yang terkungkung dalam dunianya yang keras dan penuh tantangan. Bila Anna memilih altAnnatif untuk menerima saja tawaran kerja di kota, itu berarti semakin menjauhkan diri dari dunia kewanitaannya.</p>
<p class="MsoNormal">Bisa saja ia beralasan bahwa ia memilih kerja dmei mengamalkan ilmunya. Dan memang alasan inilah yang paling kerap diajukan gadis-gadis yangmengalami dilema seperti ini. Asal tahu saja, keputusan seperti ini akan semakin menjauhkan diri dari kodratnya sebagai wanita. Dunia kerja hanya membuatnya semakin mandiri dan semakin melenyapkan fungsi perasaan yang kelak akan dibutuhkan bila ingin menjadi ibu yang baik bagi suami dan anak-anak.</p>
<p class="MsoNormal">Masih ada kesempatan untuk berbenah diri, jika Anna mau memilih membantu usaha ibunya di rumah. Awalnya jelas ini sebuah perjuangan berat. Tetapi bukankah perjuangan semacam ini tahun-tahun awal kuliahnya?</p>
<p class="MsoNormal">Kala itu, ia masih benar-benar gadis desa yang berparas cantik, berkulit lembut dan halus perangai serta tutur katanya. Masa-masa itu, ia merasakan percobaan demi percobaan yang memaksanya terpanggang matahari selama berjam-jam sebagai sebuah siksaan berat. Tetapi lambat laun ia pun merasa terbiasa. Bila selama di desa ia tak suka berpergian jauh-jauh, kini tak ada masalah untuk pergi sendiri bersepeda motor dari satu sudut kota ke sudut yang lain sampai seharian penuh, demi kepentingan studinya. Hingga sekarang, Anna sudah berubah menjadi gadis kota yang selalu berbicara dengan nada intelektual.</p>
<p class="MsoNormal">Perjuangan yang serupa harus dilakukan jika ia ingin kembali akrab dengan dunianya sebagai wanita. Berhasil tidaknya, sama tergantung niat. Pengorbanan sebesar apapun bisa dikerjakan asal ada niat baja yang menyertainya.</p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Bukannya tak mungkin, perjuangan Anna untuk bersabar mengerjakan tusuk demi dengan penuh ketelitian, bisa mengembalikan lagi kesabaran dan ketelatenan yang dulu sempat sirna dari dirinya. Kelak, inilah yang dia perlukan untuk membangun keluarga bahagia sejahtera.Bagi seorang ibu yang tak lagi memiliki kesabaran dan ketelatenan, adalah satu hal mustahil untuk sukses dalam tugasnya mendampingi suami dan mendidik anak. </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abufaim.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abufaim.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufaim.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufaim.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufaim.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufaim.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufaim.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufaim.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufaim.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufaim.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufaim.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufaim.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaim.wordpress.com&blog=737892&post=13&subd=abufaim&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufaim.wordpress.com/2007/04/05/fitrah-kewanitaan-hilang-di-bangku-kuliah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3206bc2b3cdadc03f728a38a0ca756f1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abufaim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mendamaikan Kakak dan Adik</title>
		<link>http://abufaim.wordpress.com/2007/04/05/mendamaikan-kakak-dan-adik/</link>
		<comments>http://abufaim.wordpress.com/2007/04/05/mendamaikan-kakak-dan-adik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Apr 2007 06:59:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufaim</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://abufaim.wordpress.com/2007/04/05/mendamaikan-kakak-dan-adik/</guid>
		<description><![CDATA[Menyalahkan salah satu pihak bukan tindakan bijaksana.Hargailah perasaan masing-masing.

Ketika kakan sedang asyik bermain dengan mainannya yang baru, lantas adik merebutnya dengan paksa. Kakak berusaha mempertahankan mainnanya tetapi adiknyapun tak kalah kuat mencengkeramnya sambil merengek. Jengkel dengan tingkah sang adik, maka si kakakpun ambil jalan pintas dengan memukul keras-keras adiknya itu.
Siapa yang salah dalam kejadian ini? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaim.wordpress.com&blog=737892&post=11&subd=abufaim&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal">Menyalahkan salah satu pihak bukan tindakan bijaksana.Hargailah perasaan masing-masing.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Ketika kakan sedang asyik bermain dengan mainannya yang baru, lantas adik merebutnya dengan paksa. Kakak berusaha mempertahankan mainnanya tetapi adiknyapun tak kalah kuat mencengkeramnya sambil merengek. Jengkel dengan tingkah sang adik, maka si kakakpun ambil jalan pintas dengan memukul keras-keras adiknya itu.</p>
<p class="MsoNormal">Siapa yang salah dalam kejadian ini? Dalam kaca mata orang dewasa, adik kecil dianggap tak salah karena memang belum mengerti. Sifat egosentrisnya masih terlalu besar sehingga merasa ingin memiliki barang apa saja yang mereka sukai. TEtapi di mata si kakak (yang juga masih kecil), adiknya jelas-jelas salah karena merebut mainan milik kakak. Tentu saja kakak tak mengerti tentan sifat egosentris adiknya. Yang ia pahami bahwa mainan itu adalah miliknya dan ia berhak mempertahankannya.</p>
<p class="MsoNormal">Ibu yang merasa terganggu dengan tangis adik, kerap mengambiljalan pintas dengan menyuruh kakak mengalah. Berarti ibu mengikuti pola pikir orang dewasa, dan tak mau menghargai pola pikir kakak yang masih kecil tadi. Jika ibu memaksa kakak untuk selalu mengalah, banyak akibat negative yang akan terjadi, seperti :</p>
<p class="MsoNormal">Kakak merasa dirinya tak memiliki harga diri di mata ibu</p>
<p class="MsoNormal">Adik tak pernah belajar mengetahui hal yang benar.</p>
<p class="MsoNormal">Kakak menyimpan dendam pada adik dan membalasnya nanti jika ada kesempatan.</p>
<p class="MsoNormal">Jika terjadi perkelahian lagi, adik cenderung mengandalkan tangisnya untuk mengadu kepada ibu agar dibela.</p>
<p class="MsoNormal">Tetapi ibu yang bijaksana akan bertindak lain. Ibu ini akan mencoba memahami pertengkaran ini dengan melihat persoalan dari kacamata kedua pihak. Yaitu dengan memahami bagaimana perasaan adik, juga perasaan kakak.</p>
<p class="MsoNormal">
<ol>
<li class="MsoNormal">Hindari      menyalahkan salah satu pihak.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal">Walaupun ibu tahu kakak salah karena memukul adik keras-keras, dan adik salah karena merebut mainan yang bukan miliknya, tahanlah diri untuk tidak menyalahkan salah satu pihak. Jika ibu sendang emosi, lebih baik ibu menahan diri dengan diam. Atau jika tidak kuat diam, menyalahkan kedua pihak masih lebih baik dari pada hanya menyalahkan salah satunya.</p>
<p class="MsoNormal">Pertengkaran kakak dengan adiknya adalah satu perkembangan wajar, sesuai dengan fase perkembangan psikoligis mereka. Sangat sulit untuk menemukan siapa sebenarnya yangmenjadi biang keladi pertengkaran., karena semua merasa benar. Apalagi pola berpikir ibu, kakan dan adik sangat berbeda, sesuai dengan fase perkembangan usia. Jadi, arti kebeneran menurut kakak, adik serta ibupun kerap berbeda. Maka adalah tindakan yang sangat sulit untuk bias menemukan siapa sebenarnya yang salah, dan itupun sebenarnya tidak perlu dilakukan.</p>
<ol>
<li class="MsoNormal">Kakak      tidak harus selalu mengalah.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal">Jika orang dewasa mau memahami pola berpikir kakak (yang sebenarnya juga masih kecil), maka tak adil jika harus menyuruhnya untuk terus mengalah. Pola pikirnya yang menganggap adiknya salah pun ada benarnya, bukan?</p>
<p class="MsoNormal">
<ol>
<li class="MsoNormal">Hargai      jika kakak benar</li>
</ol>
<p class="MsoNormal">Bagaimana jika Anda mersa benar tapi disalahkanoleh orang lain? Bisakah menerimanya dengan lapang dada? Tentu sulit, apalagi jika orang yang menyalahkan dengan cara memaksa. Ibu harus bisa memahami, kakak punya hak untuk mempertahankan mainnya, bukan? Perkara dia mau meminjamkan mainannya kepada adik, itu tergantung kebaikan hatinya.</p>
<p class="MsoNormal">Nah, yang ibu perlu lakukan bukan menyalahkan kebenaranya yang diyakini kakak, tetapi menyentuh empati sang kakak untuk mau berbaik hati kepada adiknya. Kebenaran yang diyakini kakak harus ibu akui. Contohnya dengan berkomentar,”Ya Allah, kenapa adik merebut milik kakak? Padahal kakak sedang asik main, lho. Kalau adik mau pinjam, bilang dulu sama kakak”</p>
<p class="MsoNormal">Dengan ibu menghargai kebenaran yang diyakini kakak, berarti ibu sudah menghormati harga dirinya. Ini memiliki arti yang sangat besar pada psikoligis si kakak. Karena merasa dirinya dihargai, selanjutnya ia justru lebih mudah menerima pendapat orang lain, lebih mudah memahami perasaan adiknya, dan lebih bisa menumbukan empati kepada sang adik.</p>
<p class="MsoNormal">Sebaliknya, jika kebenaran yang diyakini kakak disalahkan oleh ibu, jangan harap kakak mau menerima kata-kata ibu selanjutnya. Apalagi kakak sedang dalam keadaan emosi.Karena merasa dirinya benar tetapi tidak diakui, kakak merasa perasaannya tak dipahami, sehingga ia semakin jengkel. Kalaupun ia menurut untuk mengalah, itu ia lakukan dengan terpaksa, dengan dendam yang ia pendam dalam dada.</p>
<ol>
<li class="MsoNormal">Tunjukkan      ketidakmengertian adik</li>
</ol>
<p class="MsoNormal">Jika ibu telah berhasil menghargai pendapat yang diyakini kakak, jangan lupa pula untuk menghargai pendapat yang diyakini adik. Kalau adik menyakini bahwa setiap barang yang ia sukai harus ia dapatkan, itu bukanlah pendapat yang salah untuk usianya. Jadi, ibupun tiak bisa serta merta menyalahkan adik.</p>
<p class="MsoNormal">Yang lebih baik, ajaklah kakak untuk mau memahami ketidakmengertian adiknya tersebut. Ini akan mudah dilakukan jika emosi kakak sedikit mereda setelah tadi ibu bisa menghargai perasaannya. Kepada kakak bisa diberi pengertian,”Adik kecil itu memang belum mengerti, kak. Semua yang ia ingini pasti ia rebut. Dulu waktu kakak masih kecil juga suka begitu. Kita beri tahu saja dia pelan-pelan.”</p>
<ol>
<li class="MsoNormal">Tumbuhkan      empati kakak</li>
</ol>
<p class="MsoNormal">Setelah emosi kakak mereda, dan ia menunjukkan tanda-tanda mau mendengar kata-kata ibu, barulah bisa disentuh perasaanya untuk menumbuhkan empati terhadap adik.</p>
<ol>
<li class="MsoNormal">Hargai      jika kakak mau mengalah</li>
</ol>
<p class="MsoNormal">Saat akhirnya kakak mau mengalah memberikan mainnya kepada adik, harus kita pahami bahwa pengorbanan kakak itu bukan satu hal yang ringan. Bagi anak-anak, bisa mengalah walau merasa tak salah adalah kebaikan yang sangat sulit dilakukan, mengingat hingga usia balita rasa keakuan mereka masih cukup tinggi.</p>
<p class="MsoNormal">Sudah seharusnya ibu memberi penghargaan khusus kepada kakak jika mereka berhasil melakukan kebaikan itu. Penghargaan itu bisa denagn ucapan,”Subhanallah, kakak baik sekali. Pasti deh nantinya kakak banyak disukai teman.” Ibu bisa ajarkan kepada adik untuk berterima kasih pada kakak,”Ayo dik, katakana terimakasih pada kakak, dia sudah berbaik hati pada kamu.” Atau ibu bisa beri penghargaan lain berupa pelukan, ciuman atau bahkan bungkus permen untuk kakak.”</p>
<p class="MsoNormal">Adakalanya kakak mau mengalah kepada adik, tetapi masih dengan berat hati. Bibirnya cemberut, matanya memerah menahan tangis dan pergi ngeloyor dengan kecewa. Dalam kondisi seperti ini, mereka butuh ditemani, butuh untuk dipahami perasaannya. Maka sebaiknya ibu meluangkan waktu untuk menghibur kakak terlebih dulu. Ajak mereka berbicara baik-baik, beri perhatian, hibur hatinya, hingga perasaan mereka bisa lebih baik.</p>
<ol>
<li class="MsoNormal">Biasakan      segera saling bermaafan</li>
</ol>
<p class="MsoNormal">Lebih baik lagi, jika ibu membiasakan kakak dan adik untuk saling bermaafan. Ini bisa dilakukan jika emosi masing-masing telah mereda. Untuk bermaafan tak perlu diungkit-ungkit siapa yang salah. Yang penting tumbuhkan motivasi untuk minta maaf lebih dulu.</p>
<p class="MsoNormal">“Nah, perang sudah selesai, kan?” Siapa yang mau minta maaf lebih dulu…? Dapat pahala besar lho. Dapat ciuman dari ibu nanti…”</p>
<ol>
<li class="MsoNormal">Ajarkan      adik dan kakak tentang kekeliruannya</li>
</ol>
<p class="MsoNormal">Memberi nasehat sewaktu pertengkaran terjadi, emosi sedang membara, tak akan ada gunanya. Orang dewasapun sulit menerima nasehat jika hati sedang emosi. Itu sebabnya, perlu dicari waktu yang tepat, yang enak dan santai untuk membicarakan kembali kesalahan-kesalahan yang sempat mereka lakukan saat bertengkar tadi.<br />
<span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">“Lain kali kalau adik merebut mainanmu lagi, kita beri pengertian pelan-pelan, ya. Atau biar ibu yang beri dia pengertian. Jangan dipukul, karena sebenarnya adik kan belum mengerti.” Kepada adik, ibu juga harus beri pengertian, “Lain kali tidak boleh merebut mainan kakak seperti itu. Adik harus pinjam baik-baik, kalau tidak diperbolehkan juga tak boleh memaksa, ya!”</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abufaim.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abufaim.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufaim.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufaim.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufaim.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufaim.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufaim.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufaim.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufaim.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufaim.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufaim.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufaim.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaim.wordpress.com&blog=737892&post=11&subd=abufaim&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufaim.wordpress.com/2007/04/05/mendamaikan-kakak-dan-adik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3206bc2b3cdadc03f728a38a0ca756f1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abufaim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menikah, Lebih Cepat Lebih Baik</title>
		<link>http://abufaim.wordpress.com/2007/04/05/menikah-lebih-cepat-lebih-baik/</link>
		<comments>http://abufaim.wordpress.com/2007/04/05/menikah-lebih-cepat-lebih-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Apr 2007 06:55:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufaim</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://abufaim.wordpress.com/2007/04/05/menikah-lebih-cepat-lebih-baik/</guid>
		<description><![CDATA[Demi keselamatan, dengan sirri pun jadi.
Siapa sangka orang sesaleh Harun sempat menghamili calon istrinya hanya dua bulan sebelum hari pernikahannya. Bahkan Harun sendiri pun termangu-mangu memikirkan dirinya yang telah jauh berubah. Bagaimana mungkin? Semenjak masa kuliah, cowok yang kata orang ganteng ini tak pernah tertarik berdekatan dengan wanita, walapun tak sedikit teman putrinya banyak mengejar. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaim.wordpress.com&blog=737892&post=10&subd=abufaim&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><em>Demi keselamatan, dengan sirri pun jadi.</em></p>
<p class="MsoNormal">Siapa sangka orang sesaleh Harun sempat menghamili calon istrinya hanya dua bulan sebelum hari pernikahannya. Bahkan Harun sendiri pun termangu-mangu memikirkan dirinya yang telah jauh berubah. Bagaimana mungkin? Semenjak masa kuliah, cowok yang kata orang ganteng ini tak pernah tertarik berdekatan dengan wanita, walapun tak sedikit teman putrinya banyak mengejar. Ia menghabiskan waktu-waktu luangnya mengikuti kursus komputer dan bahasa Inggris, serta aktif sebagai pengurus masjid kampus.</p>
<p class="MsoNormal">Bencana dimulai ketika seorang teman menawarkan jodoh untuknya, selepas ia meraih kesarjanaan. Harun sempat berpikir sebulan sebelum menyatakan bahwa dirinya telah benar-benar siap menikah.</p>
<p class="MsoNormal">Kemudian proses perjodohan pun dimulai. Penuh kesucian. Diawali dengan saling bertukar foto dan biodata, dilanjutkan dengan pertemuan didampingi kakak si gadis, hati keduanya semakin mantap. Keduanya sepakat untuk segera menikah sesuai syariat Islam.</p>
<p class="MsoNormal">Hambatan datang dari pihak orang tua si gadis, yang tak menyetujui proses pernikahan yang melanggar adat. Mereka menghitung-hitung terlebih dulu bulan dan hari mana yang baik untuk pasangan ini. Entah seperti apa cara menghitungnya, yang jelas akhirnya diputuskan bahwa lamaran dilaksanakan sebulan kemudian, sementara pernikahan baru akan dilaksanakan delapan bulan kemudian.</p>
<p class="MsoNormal">Harun mencoba untuk bersabar. Dia sangat ingin menghormati pendapat calon mertua, walau bertentangan dengan keinginannya. Selanjutnya, hari-hari Harun mulai berubah. Kesibukannya merintis karir di perusahaan tempatnya bekerja cukup menyita waktu sehingga ia tak lagi sempat aktif dalam bidang keagamaan seperti dulu. Bahkan rekan-rekan kerja wanita tak juga sungkan-sungkan mendekati dan menggodanya, walau sudah tahu statusnya yang sedang menunggu hari pernikahan.</p>
<p class="MsoNormal">Sementara itu Harun sudah mulai menikmati keindahan benih cinta yang bersemi di hatinya. Sesuatu yang belum pernah ia alami! Dan pertemuannya dengan sang calon istri setiap pekan sekali menjadi sesuatu yang kian hari kian ia nikmati. Apalagi setelah sepekan ia harus menghadapi godaan dan rayuan yang berat di kantor, maka kondisi Harun kini sedang berada di puncak<span>  </span>gairahnya.</p>
<p class="MsoNormal">Terkadang ia sadar bahwa ia telah terlalu jauh melangkah. Namun setan dengan pandainya membisikkan berbagai argumen. Toh ia adalah calon milikku juga. Apalah artinya beda waktu beberapa bulan? Tak akan terlalu salah jika aku lakukan kepada calon istriku.</p>
<p class="MsoNormal">Ada perasaan berdosa ketika untuk pertama kali ia menikmati tatapan mata gadis yang ia cintai. Tetapi perasaan nikmat lebih besar sehingga dalam waktu dua pertemuan sudah bisa menepis perasaan risih itu. Perasaan itu akan kembali timbul ketika untuk pertama kalinya menjabat tangan si gadis, saat pertama kali meremasnya, juga saat pertama kali duduk bersebelahan dengannya, pertama kali merengkuh bahunya, pertama kali merangkulnya, dan juga saat pertama kali mencium pipinya! Dan selalu, akhirnya perasaan-perasaan risih itu akhirnya sirna juga ketika ia lakukan untuk kedua, ketiga, dan keempat kalinya.</p>
<p class="MsoNormal">Ketika si calon istri berterus terang dengan kehamilannya, tepat sebulan sebelum pernikahannya, Harun seperti di sambar geledek. Bagaimana ia bisa lakukan itu? Cuma sekali mereka mencoba berhubungan dan Allah takdirkan calon istrinya hamil! Satu kata inilah yang ia takutkan semenjak dulu. Setan sempat membisikan, bahwa perbuatannya yang tercela hanya dirinya dan calin istrinya yang tahu (kecuali Allah, malaikat, dan jin) dan bukannya tidak mungkin, iman yang kokoh bisa tergoyah jika menghadapi ujian wanita seperti ini.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Menyepelekan dosa kecil</p>
<p class="MsoNormal">Dalam sebuah hadisnya Rasululloh saw. telah berpesan, “Janganlah seseorang di antara kamu ber-khalwat dengan wanita kecuali disertai dengan mahram.” (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p class="MsoNormal">Ancaman setan ini, seharusnya membuat orang selalu waspada terhadap pikiran aneh yang sempat hadir di benaknya, ketika sedang berdua. Namun, karena waspada dalam keadaan jatuh cinta sangatlah sulit. Allah sudah tegas-tegas memberi larangan, ‘Jangan! Kamu tak akan mampu melawan setan! Sekuat apapun imanmu, jangan lakukan itu!”</p>
<p class="MsoNormal">Ada yang merasa sombong dengan keyakinannya bahwa dalam keadaan ber-khalwat pun dapat menjaga diri. Tetapi Allahlah yang tahu batas kekuatan hamba-Nya.</p>
<p class="MsoNormal">Masalahnya, yang biasa muncul dalam benak manusia adalah bentuk-bentuk pembelaan diri seperti ini,”Ah, hanya menyentuh saja kan tidak mengapa”. “Hanya berdekatan saja…Tak mungkin aku lakukan macam-macam….Sekali ini saja… Tak akan kuulangi di kali lain…”</p>
<p class="MsoNormal">Begitulah tabiat manusia, menyepelekan dosa-dosa kecil. Ketika timbul perasaan bersalah, justru kian ditepisnya. Itulah sebabnya Rasululloh tak bosan-bosan mengingatkan untuk waspada terhadap setiap dosa, sekecil apapun. Dosa kecil adalah pembuka jalan menuju dosa besar.</p>
<p class="MsoNormal">Tak banyak orang menyadari bahwa hawa nafsu sangat sulit diperangi. Lebih banyak yang merasa mampu mengendalikannya. Kebanyakan justru mereka yang meraa mampu inilah yang akhirnya terperosok godaan hawa nafsu itu sendiri.</p>
<p class="MsoNormal">Rasululloh saw. pernah bersabda, “Jihad yang paling utama adalah melawan hawa nafsu.” (HR. ad-Dailami). Maka wajar, jika saat tumbuh getar-getar cinta di dada manusia, sementara belum halal itu baginya, hendaklah ada perasaan bahwa mereka sedang berjihad. Dan inilah yang berat. Mereka biasanya malah lalai dan menikmati kemaksiatan. Bahkan tak jarang mereka datang dengan niat untuk kalah di dalamnya.</p>
<p class="MsoNormal">Tantangan yang paling sulit dalam masa penantian pernikahan adalah menghindari zina hati. Kecondongan hati untuk terus-menerus memikirkan calon pasangan, perasaan rindu, bahkan membayangkan yang tak semestinya dilakukan. Pesan Nabi , “Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat. Kedua telinga zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa, kaki zinanya melangkah serta hati yang berharap dan berhasrat. Semua itu dibenarkan oleh kelamin atau digagalkannya.” (HR al-Bukhari).</p>
<p class="MsoNormal">Karena lebih baik menyegerakan menikah. Untuk apa menjerumuskan diri ke dalam masa penantian yang penuh resiko? Jika ada hambatan pihak ketiga yang tak bisa dilampaui, maka melaksanakan nikah sirri adalah salah satu alternatif. Sesuai ajaran Islam, sebenarnya pelaksanaan akad nikah adalah satu hal yang tak perlu dipersulit. Apalagi jia sudah ada kesepakatan dari kedua pihak. Langkah itu akan jauh lebih menolong. Dan, dijamin keabsahannya secara syar’i.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abufaim.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abufaim.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufaim.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufaim.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufaim.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufaim.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufaim.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufaim.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufaim.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufaim.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufaim.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufaim.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaim.wordpress.com&blog=737892&post=10&subd=abufaim&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufaim.wordpress.com/2007/04/05/menikah-lebih-cepat-lebih-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3206bc2b3cdadc03f728a38a0ca756f1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abufaim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Beriman, Kemudian Istiqomalah</title>
		<link>http://abufaim.wordpress.com/2007/02/09/beriman-kemudian-istiqomalah/</link>
		<comments>http://abufaim.wordpress.com/2007/02/09/beriman-kemudian-istiqomalah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Feb 2007 11:01:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufaim</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://abufaim.wordpress.com/2007/02/09/beriman-kemudian-istiqomalah/</guid>
		<description><![CDATA[Allah SWT berfirman di dalam surat Al-Ankabut ayat 2 yang artinya “ Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan, ‘Kami telah beriman’ sedangkan mereka tidak diuji lagi?”
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Terdengar percakapan antara ibu dan anaknya ketika Amirul Mukminin Umar Ibnul Khattab melakukan kebiasaan Beliau, berkeliling [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaim.wordpress.com&blog=737892&post=9&subd=abufaim&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoPlainText"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Allah SWT berfirman di dalam surat Al-Ankabut ayat 2 yang artinya “ Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan, ‘Kami telah beriman’ sedangkan mereka tidak diuji lagi?”</span></em></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Terdengar percakapan antara ibu dan anaknya ketika Amirul Mukminin Umar Ibnul Khattab melakukan kebiasaan Beliau, berkeliling ke perkampungan setelah sholat malam hingga menjelang subuh. Amirul Mukminin mendekat ingin mengetahui lebih jelas percakapan ibu dan anak itu.<br />
&#8220;Nak, tambahkan air ke susu yang akan kita jual pagi nanti di pasar!&#8221; suruh sang ibu kepada anaknya.</span></p>
<p>&#8220;Maaf bu, saya tidak berani, bukankah Amirul Mukminin melarang hal tersebut?&#8221; jawab anaknya dengan rasa hormat, takut dianggap sebagai anak yang melawan orang tua.</p>
<p>&#8220;Amirul Mukminin tidak ada di sini sekarang, jadi Beliau tidak melihat, lagian pedagang susu yang lain juga melakukan hal yang sama.&#8221; jawab sang ibu dengan nada sedikit lebih tinggi dari yang pertama.</p>
<p>&#8220;Benar bunda, Amirul Mukminin memang tidak melihat, tetapi yang menciptakan Amirul Mukminin, Allah swt melihat apa yang kita perbuat.&#8221; jawab sang anak.</p>
<p>Maka berderailah air mata Amirul Mukminin. Ia tak kuasa menahan tangis yang menyesakkan dadanya. Yang berderai itu bukanlah air mata kesedihan, melainkan air mata bangga dan kegembiraan.</p>
<p>Sekilas terkesan, sang ibu kurang memahami kemahatahuan Allah dibandingkan anaknya, Padahal belum tentu seperti itu, sang ibulah yang mengajarkan dan mengenalkan Allah kepada anaknya. Hanya saja, sang ibu kalah menampilkan sosok hamba yang beriman. Anaknya mampu membuat Amirul Mukminin meneteskan air mata, terisak, antara bangga dan haru. Itulah sosok hamba yang memiliki iman yang mempesona.</p>
<p>Persoalan yang mendasar adalah, setelah seorang hamba menyatakan dua kalimat syahadat sebagai perwujudan seorang hamba yang beriman, mengakui keberadaan Allah dan menyatakan tidak ada illah selain Allah dan Muhammad saw. sebagai utusan Allah. Diperlukan mengembangkan, membina, dan mengontrol imannya secara istiqomah.<span>  </span>Istiqomah, bukannya tanpa rintangan ketika seseorang itu meningkatkan imannya sampai pada taraf yang tak terbatas. Kendala itu berupa tagha&#8217; (kesombongan diri dan merasa dirinya sudah cukup beriman). Faktor penyebab sombong sungguh beraneka macam. Mungkin gelar doktor, mungkin prestasi yang hebat, bahkan tidak menutup kemungkinan juga sebutan ulama yang disandang, dan masih berjuta lagi yang lain.<br />
Lihatlah Bilal, seorang budak hina, negro Ethopia yang miskin. Dengan keadaannya yang seperti itu, Bilal telah berperan banyak dalam memperjuangkan terwujudnya masyarakat Islam. Apa rahasianya? Kesombongan itu. Bilal benar-benar jauh dari sifat tagha&#8217;. Meski miskin harta, ia kaya iman. Tidak main-main ujian iman Bilal, beliau di jemur di tengah panas terik matahari yang menyengat, dan di atas tanah yang panas membara. Sahabat Abu Bakar yang melihat keadaan Bilal menebus dan memerdekakannya. Lantas, apakah iman Bilal surut setelah penebusannya? Peran Bilal dalam kancah mengembangkan dakwah Islam tidaklah sedikit, kita mengenal Bilal sebagai Muadzin pertama Rosululloh saw. serta kita juga dapat membaca dalam siroh nabawiyah peran Bilal yang lain.</p>
<p>Lain halnya dengan mereka yang miskin iman tapi kaya ketakabburan. Dengan berbagai gelar di depan namanya, dengan berbagai buku tentang iman yang telah dilahap, mereka telah merasa benar-benar beriman. Tetapi dasar kesombongan belum lenyap bahkan tumbuh menjadi-jadi, iman pun kian menjauh. Bilal, tak banyak yang dibacanya. Hanya Al Qur&#8217;an bacaan sehari-harinya.<br />
Tetapi ia selalu mengontrol imannya, di samping kontrol dari Rasululloh saw. Maka semakin berkualitaslah imannya. Ia sadar bahwa iman bukan hanya cukup diyakini dalam hati dan diikrarkan dengan lisan. Iman harus ada bukti berupa perubahan total dalam sikap dan tindak. Dari jahiliyah menuju taqwa. Dari taqwa menuju semakin taqwa sampai batas usia penghabisan.<br />
Iman Bilal dan para sahabat pada umumnya adalah iman yang mencair dan mengalir deras. Sehingga memungkinkan Nabi Muhammad saw. menatanya dalam bentuk bangunan yang indah. Rasululloh juga mudah merapikannya dalam shaf yang siap maju meraih kemenangan. Hingga<span>  </span>kebenaran Ilahi berkibar, membawa angin sejuk sejahtera rahmatan lil&#8217;alamin. Kibaran ajaran Ilahi membuat perubahan total yang damai, tentram, dan tentu didambakan oleh setiap insan yang budiman.</p>
<p>Seolah-olah setiap sahabat Rasululloh saw. memiliki pembangkit listrik tenaga iman. Dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, mereka sadar penting dan harusnya mewujudkan power iman dan realita. Terbukti dalam sejarah, mereka semua telah menampilkan karya nyata yang berguna. Arus listrik iman mereka cukup kuat, sehingga menimbulkan cahaya amal yang menerangi kegelapan di sekelilingnya. Bagaimana dengan kita?</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abufaim.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abufaim.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufaim.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufaim.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufaim.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufaim.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufaim.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufaim.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufaim.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufaim.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufaim.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufaim.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaim.wordpress.com&blog=737892&post=9&subd=abufaim&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufaim.wordpress.com/2007/02/09/beriman-kemudian-istiqomalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3206bc2b3cdadc03f728a38a0ca756f1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abufaim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hurairah, maafkan kami</title>
		<link>http://abufaim.wordpress.com/2007/02/05/hurairah-maafkan-kami/</link>
		<comments>http://abufaim.wordpress.com/2007/02/05/hurairah-maafkan-kami/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Feb 2007 02:35:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufaim</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://abufaim.wordpress.com/2007/02/05/hurairah-maafkan-kami/</guid>
		<description><![CDATA[Malam itu gerimis turun. Angin pun bertiup sangat dingin. Tapi kedua suami istri yang tinggal di sebuah rumah kecil itu bersikeras hendak keluar juga. Karena ibu suami itu dalam keadaan sakit payah, mungkin tinggal menunggu waktu saja. Hanya sangat merisaukan hati mereka, bagaimana si Harun, anak mereka yang baru berumur empat bulan. Kalau diajak pergi, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaim.wordpress.com&blog=737892&post=8&subd=abufaim&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal">Malam itu gerimis turun. Angin pun bertiup sangat dingin. Tapi kedua suami istri yang tinggal di sebuah rumah kecil itu bersikeras hendak keluar juga. Karena ibu suami itu dalam keadaan sakit payah, mungkin tinggal menunggu waktu saja. Hanya sangat merisaukan hati mereka, bagaimana si Harun, anak mereka yang baru berumur empat bulan. Kalau diajak pergi, takut terserang angin dan gerimis, bisa jatuh sakit.</p>
<p class="MsoNormal">“bagaimana Aminah kita bawa saja Harun?” tanya yang lelaki.</p>
<p class="MsoNormal">“jangan Bang anginnya angin jahat,” cegah istrinya.</p>
<p class="MsoNormal">“habis siapa yang akan menjaganya di rumah? Apa akan kita tinggalkan sendirian? Aku tidak tega, rumah kita terlalu dekat dengan kuburan. Barangkali…”</p>
<p class="MsoNormal">“Ah, Bang, jangan berpikir yang bukan-bukan.” Sangah istrinya yang cantik dan manja itu. “Kan ada Hurairah di rumah. Dia saja kita suruh menjaga Harun.”</p>
<p class="MsoNormal">“Betul, Aminah. Kenapa aku tidak ingat pada si Hurairah?” balas suaminya dengan gembira. “Meong…,” teriaknya kemudian. Terdengar suara gedubrak dari lumbung. <span> </span>Lalu langkah-langkah kecil mendekat dengan cepat. Muncullah Hurairah, seekor kucing yang ramping dan gesit. Bulunya putih mulus, rambut kepalanya hitam mengkilat. Dalam cahaya remang-remang di rumah itu, mata Hurairah bersinar-sinar dengan indahnya. Mata itu sudah sering meruntuhkan tikus-tikus yang merusak simpanan bahan makanan majikannya.</p>
<p class="MsoNormal">“Malam ini kau tidak usah menjaga lumbung,” kata bapak si Harun. “Kami mau pergi berdua. Jagalah Harun baik-baik, agar jangan terbangun.”</p>
<p class="MsoNormal">Kucing yang cantik itu mengeong sambil mengibas-ngibaskan ekornya. Kalau bisa berkata dia akan menjawab,”Jangan khawatir, Tuan, saya akan tunggui Harun supaya tidur dengan lelap. Tak akan saya izinkan seekor nyamuk pun hinggap di tubuhnya.”</p>
<p class="MsoNormal">Setelah berpesan begitu, maka bapak dan ibu Harun pun berangkat dengan aman. Mereka tahu bahwa Hurairah akan melakukan kewajibannya dengan baik, sebab dia adalah seekor kucing yang sangat setia kepada tuannya.</p>
<p class="MsoNormal">Begitu melihat majikannya sudah pergi, Hurairah dengan cekatan dan diam-diam melompat ke tempat tidur. Ia mendekam di sebelah si Harun yang tengah mendengkur dengan nyenyaknya. Ekornya dikibas-kibaskan agar tidak ada seekor serangga pun yang berani mengganggunya. Matanya dengan tajam mengawasi sekelilingnya, sementara kedua kaki depannya siap mencakarkan kuku-kukunya kepada siapa saja yang berniat mengusik ketenangan majikan kecilnya.</p>
<p class="MsoNormal">Menjelang jam sepuluh malam, tiba-tiba kucing itu mendengar bunyi mendesis dari kolong tempat tidur. Cepat Hurairah menggeram, siap menghadapi segala kemungkinan. Matanya tiba-tiba terbeliak kaget dan marah ketika muncul sebuah moncong yang ternganga, dengan taring dan lidah yang mejulur-julur. Moncong seekor ular besar yang bermaksud menerkam Harun yang masih orok itu. Dengan sigap Hurairah melompat, giginya menghunjam ke leher ular tersebut, dan cakarnya menyerang dengan buas. Ular itu murka karena niatnya dihalang-halangi oleh makhluk lain. Matanya merah seperti besi terbakar. Dia balas menyerang dengan hebat. Badan Hurairah dililit dengan ketat, sambil mulutnya mematuk-matuk muka kucing itu. Hurarirah hampir kehabisan tenaga karena lilitan ular besar itu, sementara mukanya pun sudah berlumuran darah. Namun ia tidak mau binasa sebelum dapat membunuh ular tersebut. Dengan segala kemampuan dan kesaktiannya ia akan berusaha menyelamatkan nyawa anak tersayang kedua majikannya. Ia berhasil melepaskan diri, lalu dengan cepat menerkam leher ular itu. Digigitnya batang leher makhluk jahat tersebut sekuat tenaga sehingga akhirnya matilah musuhnya.</p>
<p class="MsoNormal">Begitu dilihatnya binatang penggangu itu sudah tergolek kaku, barulah Hurairah dengan sisa-sisa tenaganya naik lagi ke pembaringan, mendekam di samping si Harun. Anak kecil itu masih tetap tidur dengan lelap. Hurairah menjilat-jilat lukanya, sementara perih dan capek menyengat sekujur badannya. Mulutnya masih penuh dengan darah ular tadi, sedangkan pada mukanya bertebaran luka-luka yang mengangga.</p>
<p class="MsoNormal">Belum pulih kembali tenaganya, kedengaran suara majikannya di halaman rumah. Hurairah dengan gerakan yang loyo turun dari tempat tidur. Pelan-pelan ia berjalan menuju ke pintu, menyambut kedatangan kedua tuannya yang sangat dicintainya. Dilihatnya ibu Harun berjalan menunduk sambik terisak-isak. Bapaknya juga tampak sangat murung. Hurarirah amat iba melihatnya.</p>
<p class="MsoNormal">Mereka berbimbingan tangan memasuki halaman rumah. Ketika mereka tiba di depat pintu, Hurairah berbunyi lirih: ”Ngeong,….,ngeong….,” seraya terhuyung-huyung mendekati majikannya.</p>
<p class="MsoNormal">Sekonyong-konyong ibu Harun menjerit, “Bang….! Harun, Bang…!”</p>
<p class="MsoNormal">Suaminya terperanjat tapi tidak mengerti, “Mengapa Harun, Minah…?”</p>
<p class="MsoNormal">“Lihat si Hurairah. Mulutnya berlumuran darah. Pasti anak kita telah diterkam dan dibunuhnya. Oh, Harun…, anak kita, Bang, Bunuh Hurairah, Bang! Ia telah memakan anak kita.”</p>
<p class="MsoNormal">Si laki-laki baru tahu sekarang apa maksud istrinya. Betul! Mulut Hurairah penuh dengan darah segar, pasti Harun telah diterkamnya. Tanpa berpikir panjang lagi, laki-laki itu mengambil palang besi. Dengan murka dipukulkannya benda keras itu ke tubuh si Hurairah. Kucing itu menjerit, “Ngeong…!” Laki-laki itu tambah marah. Dia mengambil sebuah batu, ditimpakannya ke kepala Hurairah. Berhamburan darah dari kepala binatang kecil yang tidak berdosa itu. Badanya terkejang-kejang. Dari matanya yang jernih menetes air mata satu-satu. Setelah mengeong buat penghabisan kalinya, kucing yang cantik itu pun menghembuskan napas yang terakhir.</p>
<p class="MsoNormal">Melihat korbanya sudah mati, bapak dan ibu Harun buru-buru masuk kamar. Alangkah kagetnya mereka begitu melihat suasana kamar itu. Yang tampak pertama kali di depan pintu adalah bangkai seekor ular besar yang hampir putus lehernya. Maka dengan hati berdebar-debar mereka berlari ke tempat tidur. Harun sedang tidur di sana dengan aman.</p>
<p class="MsoNormal">Barulah mereka bisa menebak, apa yang telah terjadi selama mereka pergi.Bukan Hurairah yang bersalah. Bahkan kucing itu telah berjuang mati-matian. Seketika pucatlah wajah mereka, bagaikan petir di siang hari. Mereka menyesal berkepanjangan. Ternyata Hurairah adalah kucing yang tetap setia. Dia tidak mempedulikan keselamatan dirinya asalkan tugas yang dipercayakan kepadanya tertunaikan. Kalau perlu diri sendiri menjadi korban untuk menyelamatkan nyawa majikan kecilnya. Namun balasan<span>  </span>yang diterimanya bukan belaian sayang tanda terima kasih, bahkan nyawanya dihabisi dengan kejam.</p>
<p class="MsoNormal">Suami-istri menangis tersedu-sedu. Bangkai Hurairah diangkat dan diciumi, tapi yang sudah terjadi tak akan berbalik lagi. Dan sesal mereka sia-sia belaka karena sesal itu tak kan menghidupkan yang sudah mati.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abufaim.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abufaim.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufaim.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufaim.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufaim.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufaim.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufaim.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufaim.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufaim.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufaim.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufaim.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufaim.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaim.wordpress.com&blog=737892&post=8&subd=abufaim&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufaim.wordpress.com/2007/02/05/hurairah-maafkan-kami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3206bc2b3cdadc03f728a38a0ca756f1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abufaim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tempurung Buat Ibu dan Bapak</title>
		<link>http://abufaim.wordpress.com/2007/02/02/tempurung-buat-ibu-dan-bapak/</link>
		<comments>http://abufaim.wordpress.com/2007/02/02/tempurung-buat-ibu-dan-bapak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Feb 2007 09:57:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufaim</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://abufaim.wordpress.com/2007/02/02/tempurung-buat-ibu-dan-bapak/</guid>
		<description><![CDATA[Tadinya mereka tidak terlalu rusuh dengan kehadiran ibu tua itu. Sebagai seorang anak yang merasa dilahirkan dari rahim ibunya, Hasan tidak tega membiarkan ibunya hidup terpisah semenjak bapak Hasan meninggal. Istrinya juga tidak keberatan, apalagi perempuan itu merasakan besar kegunaan mertunya di rumah. Ibu itu masih bisa membantu-bantu pekerjaan rumah tangganya sehingga tertolong sedikit meskipun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaim.wordpress.com&blog=737892&post=7&subd=abufaim&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal">Tadinya mereka tidak terlalu rusuh dengan kehadiran ibu tua itu. Sebagai seorang anak yang merasa dilahirkan dari rahim ibunya, Hasan tidak tega membiarkan ibunya hidup terpisah semenjak bapak Hasan meninggal. Istrinya juga tidak keberatan, apalagi perempuan itu merasakan besar kegunaan mertunya di rumah. Ibu itu masih bisa membantu-bantu pekerjaan rumah tangganya sehingga tertolong sedikit meskipun dia tidak punya pembantu.</p>
<p class="MsoNormal">Namun semenjak hamilnya makin besar dan dilihatnya si ibu mertua tambah mendecing-decing batuknya, dadanya kian kempis dan pernah memuntahkan darah, Nazulah mulai bingung. Kalau ibu yang sakit paru-paru itu tidak segera diungsikan, maka ia kuatir penyakitnya akan menular dan membahayakan anaknya yang bakal lahir.</p>
<p class="MsoNormal">Maka, setelah merasa hampir dekat melahirkan, Nazulah berkata kepada sauminya,”Bang, sakit ibu ternyata penyakit menular. Jadi kita harus mencarikan jalan supaya anak kita jangan bergaul dengannya.”</p>
<p class="MsoNormal">Hasan kaget mendengar bicara istrinya. “Maksudmu?”</p>
<p class="MsoNormal">“Kita harus berpisah dari Ibu,” jawab Nazulah.</p>
<p class="MsoNormal">Hasan termenung mendengar permintaan istrinya. Sebetulnya ia merasa berat terhadap ibunya, namun karena Nazulah mendesak terus, dan ia menganggap alasan istrinya cukup kuat, terutama demi anak mereka, maka Hasan membuat sebuah gubuk kecil di pekarangan belakang rumah. Dengan perasaan yang masygul ia menyuruh ibunya pindah, tinggal di gubuk itu.</p>
<p class="MsoNormal">Ibu itu adalah seorang mertua dan nenek yang baik. Ia tahu diri. Ia menganggap umurnya adalah sisa-sisa kesenangan hidup yang pernah dinikmatinya. Maka tanpa sedih sedikit pun ia pindah ke gubuk itu.</p>
<p class="MsoNormal">Mula-mula segala kebutuhan perempuan tiu masih diperhatikan sekali. Namun, sesudah anak mereka semakin besar, Hasan dan istrinya hanya mengingat Maqbulah, anaknya. Seluruh perhatiannya cuma ditumpahkan kepada naka yang manis dan pintar itu. Sampai nasib ibu tua yang di gubuk itu sering terlantar. Piring dan gelas buat makan atau minumnya sudah lama pecah, tapi Nazulah lupa menggantinya dengan yang lain. Sehingga untuk makan dan minumnya si nenek terpaksa mencari tempurung kelapa.</p>
<p class="MsoNormal">Adapaun Nazulah sama sekali melarang anak-nya<span>  </span>dekat-dekat dengan gubuk yang terdapat di belakang rumah. Dalam usia tiga tahun itu Maqbulah tidak tahu bahwa yang tinggal di gubuk tersebut adalah neneknya sendiri. Sebab ia akan dimarahi oleh bapak dan ibunya kalau bermain-main mendekati tempat itu.</p>
<p class="MsoNormal">Namun pada suatu hari Maqbulah berhasil menyelonong ke sana, karena kebetulan hari itu bapak dan ibunya tidak dirumah. Dengan mengendap-endap ia mengintip melalui lubang pintu. Dilihatnya ada seorang perempuan tua sedang duduk di atas dipan rombeng. Rambutnya putih semua, dan badannya bungkuk.</p>
<p class="MsoNormal">Dasar Maqbulah seorang anak yang berani, menyaksikan pemandangan itu bukannya takut, malah dia gembira. Dengan mulutnya yang kecil itu ia memanggil-manggil.</p>
<p class="MsoNormal">“Nek, nenek tua, bukakan pintu, Nek.”</p>
<p class="MsoNormal">Alangkah gembiranya wajah nenek itu di dalam gubuknya. Tiba-tiba darah segar membersit memerahkan warna mukanya. Matanya bersinar lantaran suara itulah yang selama ini dirindukannya. Sambil terseok-seok ia berjalan ke pintu, lantas dibukanya.</p>
<p class="MsoNormal">“Siapa kamu, Nak?” tanya nenek itu.</p>
<p class="MsoNormal">“Bulah, “ jawab si gadis kecil.</p>
<p class="MsoNormal">“Oh, cucuku. Di mana bapak dan ibumu?”</p>
<p class="MsoNormal">“Pergi,” sahut Maqbulah.</p>
<p class="MsoNormal">“Pergi ke mana?” tanya si nenek tambah gembira.</p>
<p class="MsoNormal">“Jauh,” jawab Maqbulah.”Saya ingin masuk, Nek.”</p>
<p class="MsoNormal">Betapa bahagianya nenek itu dapat menggandeng cucunya memasuki gubuk tersebut.</p>
<p class="MsoNormal">Hingga tengah hari Maqbulah bermain-main di situ. Rupanya anak kecil itu haus. Ia merengek kepada neneknya, “Nek minum.”</p>
<p class="MsoNormal">Si nenek mengambil tempurung kelapa. “Nenek tidak punya gelas. Nenek hanya punya ini buat minum.”</p>
<p class="MsoNormal">Gadis cilik itu heran. “Memang Nenek ini siapa sih, tidak punya gelas?”</p>
<p class="MsoNormal">“Aku adalah nenekmu, ibu dari bapakmu.”</p>
<p class="MsoNormal">“Kenapa tidak punya gelas?”</p>
<p class="MsoNormal">“Orang tua tidak boleh pakai gelas.”</p>
<p class="MsoNormal">Demikianlah, ketika sudah puas bermain-main di situ, Maqbulah permisi pulang. Untung waktu itu Hasan dan istrinya belum kembali. Jika sudah, pastilah si nenek yang akan dimarahi.</p>
<p class="MsoNormal">Peristiwa itu sudah dua hari terjadi tatkala mereka bertiga berjalan-jalan melihat kota.</p>
<p class="MsoNormal">Pada suatu tempat di pinggir jalan, ada selokan kotor. Di dalam selokan tersebut ada sebuah tempurung kelapa yang tersangkut di pinggir. Melihat tempurung ini Maqbulah memaksa-maksa minta diambilkan. Setelah Hasan mengambil tempurung itu dan dibersihkannya, Nazulah bertanya kepada anaknya,”Buat apa Bulah minta tempurung?”</p>
<p class="MsoNormal">Tanpa berpikir si cilik menjawab,”Bakal tempat minum Ibu kalau sudah tua, kan orang tua tidak boleh memakai gelas.”</p>
<p class="MsoNormal">Terkejut Hasan dan istrinya mendengar jawaban ini. Mereka bertanya,”Mengapa begitu?”</p>
<p class="MsoNormal">Maqbulah menjawab,”Nenek Bulah yang tinggal di gubuk itu juga dikasih makan dan minum pakai tempurung. Entar kalau Bulah sudah gede dan Ibu sudah tua, Bulah akan kasih tempurung buat ibu, dan dibikinkan gubuk jelek buat tidur Ibu.”</p>
<p class="MsoNormal">Mendengar jawaban ini sadarlah Hasan dan Nazulah akan kelakuan mereka. Tiba-tiba mereka takut akan ancaman Allah bagi anak-anak yang durhaka. Maka semenjak itu berubahlah sikap mereka terhadap orang tuanya. Diajaknya nenek itu berkumpul kembali bersama mereka di dalam rumah yang terhormat, sambil diberi perawatan dan pengobatan agar penyakitnya sembuh.</p>
<p class="MsoNormal">Dengan demikian terhindarlah keluarga itu dari malapetaka di belakang hari kalau sampai mereka tidak berhenti dari perlakukan durhaka terhadap orang tua sendiri. <span> </span>Dan yang menyadarkan mereka justru seorang anak kecil yang manis, sebab anak kecil ini telah didik dengan akhal yang baik dengan ajaran agama. Berarti agamalah sebetulnya penyelamat yang pasti bagi kehidupan agar senantiasa sejahtera.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abufaim.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abufaim.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufaim.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufaim.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufaim.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufaim.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufaim.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufaim.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufaim.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufaim.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufaim.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufaim.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaim.wordpress.com&blog=737892&post=7&subd=abufaim&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufaim.wordpress.com/2007/02/02/tempurung-buat-ibu-dan-bapak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3206bc2b3cdadc03f728a38a0ca756f1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abufaim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Karena Tidak Ada Kelas Empat</title>
		<link>http://abufaim.wordpress.com/2007/02/01/karena-tidak-ada-kelas-empat/</link>
		<comments>http://abufaim.wordpress.com/2007/02/01/karena-tidak-ada-kelas-empat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Feb 2007 04:01:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufaim</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://abufaim.wordpress.com/2007/02/01/karena-tidak-ada-kelas-empat/</guid>
		<description><![CDATA[&#160;
Muhammad Ali Jinnah adalah seorang pemimpin Islam dari Pakistan yang barangkali karena ada semacam dendam terhadap Islam, kebesarannya sering diabaikan sejarah. Padahal dialah yang memepolori tindakan gagah berani seperti yagn pernah dilakukan Nabi saw. Melaksanakan hijrah besar-besaran dari India yang masyarakatnya sangat terpengaruh oleh peninggalan penjajah yang memecah belah bangsa hanya karena berbeda agama. Agar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaim.wordpress.com&blog=737892&post=4&subd=abufaim&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">Muhammad Ali Jinnah adalah seorang pemimpin Islam dari Pakistan yang barangkali karena ada semacam dendam terhadap Islam, kebesarannya sering diabaikan sejarah. Padahal dialah yang memepolori tindakan gagah berani seperti yagn pernah dilakukan Nabi saw. Melaksanakan hijrah besar-besaran dari India yang masyarakatnya sangat terpengaruh oleh peninggalan penjajah yang memecah belah bangsa hanya karena berbeda agama. Agar tidak terjadi kerusuhan dan pertumpahan darah terus-menerus maka umat Islam berduyun-duyun pindah ke bagian benua yang kemudian dinamakan Pakistan.</p>
<p class="MsoNormal">Walaupun ia seorang pemimpin besar, tidak hanya bagi bangsanya, melainkan juga buat seluruh umat manusia yang mencintai keadilan dan kejujuran, Muhammad Ali Jinnah hidup dengan sangat sederhana meskipun tidak menampakkannya melalui berbagai formalitas, seperti pakaian yang di luar kebiasaan masyarakat maju. Dalam soal-soal semacam itu, yang berupa pangkat lahiriah, ia tetap menjaga kewibawaan selaku pemimpin bangsa yang beradab dan maju,<span>  </span>tanpa mengesankan kefakiran yang memang tidak diajarkan oleh agamanya.</p>
<p class="MsoNormal">Namun dalam masalah yang lebih penting<span>  </span>dan menyangkut prinsip atau pola hidup, ia adalah contoh yang paling baik bagi para pemimpin dunia lainnya. Terpampang kesan itu dalam salah satu ucapannya, bahwa dunia ini sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh umat manusia, tetapi tidak pernah cukup untuk memuaskan keserakahan hanya seorang anak Adam saja. Artinya dunia harus diatur sedemikian rupa supaya kemakmuran berarti kesejahteraan hidup bagi seluruh warga, dan bukan hanya catatan hitam di atas putih berdasarkan pendapatan perkapita, yang sering kali justru mencerminkan ketidakadilan yang merata. Sebab, walaupun makmur dalam catatan, kalau hanya menumpuk pada sebagian permukaan yang di atas dan tidak menyentuh ke bagian dasar, apalah artinya kalimat makmur itu.</p>
<p class="MsoNormal">Muhammad Ali Jinnah, konon, kalau berpergiaan dengan biaya sendiri tidak mau kalah dengan orang-orang besar lainnya, tidak menolak naik kendaraan termahal. Namun tidak demikian kalau ia berpergiaan atas biaya negara. Dia selalu memilih kendaraan umum yang termurah.</p>
<p class="MsoNormal">Pada suatu hari ia sedang berada di kereta api kelas ekonomi, kelas tiga.</p>
<p class="MsoNormal">Seorang wartawan asing dengan heran bertanya,”Kalau tidak salah Tuan adalah Muhammad Ali Jinnah, pemimpin besar Pakistran yang tidak hanya dihormati bangsa Tuan sendiri, melainkan juga oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini. Betulkah Tuan Muhammad Ali Jinnah yang saya maksudkan?”</p>
<p class="MsoNormal">“Saya rasa tidak ada nama Muhammad Ali Jinnah lain kecuali yang sedang Tuan hadapi sekarang. Hanya saya bukan manusia sebesar itu.”</p>
<p class="MsoNormal">“Bagaimanapun Tuan menyangkal, Tuan adalah orang besar. Tapi alangkah anehnya cara hidup Tuan.”</p>
<p class="MsoNormal">“Maksud Tuan bagaimana?”</p>
<p class="MsoNormal">“Mengapa Tuan naik kereta api kelas tiga?” tanya wartawan itu keheranan.</p>
<p class="MsoNormal">Muhammad Ali Jinnah menjawab sederhana, “Karena tidak ada kelas empat.”</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abufaim.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abufaim.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufaim.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufaim.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufaim.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufaim.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufaim.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufaim.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufaim.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufaim.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufaim.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufaim.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufaim.wordpress.com&blog=737892&post=4&subd=abufaim&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufaim.wordpress.com/2007/02/01/karena-tidak-ada-kelas-empat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3206bc2b3cdadc03f728a38a0ca756f1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abufaim</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>